Wednesday, March 11, 2009

A Prayer

Teach us, O Lord,
In this sadness, that we may see joy;
In this despair, that we may see hope;
It is from our weaknesses, that we may find strength;
It is from out worried, that we may be given strength.

Teach us, O Lord,
not to ask why, but to walk in faith.

Amen.


Terpendam. Untuk ditanam, bukan mati.
Dengan penuh harapan bahwa suatu hari nanti, setelah disirami dengan kekuatan dan keberanian, ia akan tumbuh menjadi pohon yang indah, berbuah, dan dengan bunga penuh warna.

260109.090309.

Tuesday, November 4, 2008

Ini Diam

Pikiran buruk ini menghantuiku
Rasa tidak senang ini membayangiku
Kecemburuan ini menggangguku
Warna kelabu ini tersirat di antara aku dan kamu

Dan sekali lagi aku hanya diam
Kucoba berdiri dan berteriak
Tak satu kata pun terucap
Rasa dekat itu lebih kuat

Aku tidak suka
Aku ingin lari
Aku sedih
Aku diam..........

Aku frustasi
Aku berdoa
Aku menjauh
Aku diam...........


Jika saja kau buka mata hatimu,
pejamkan mata dan biarkan sunyi menghantar,
mungkin pikiran kita menyatu,
dan terciptalah suatu telepati yang menyeberangi seberang lautan.

Oktober 2008.



Monday, November 3, 2008

Sesak Terdesak

Semak-semak ini semakin tinggi
Akar-akarnya melilit mencekik aku

Wahai Matahari, terangmu pun rasanya tidak mencukupi

"Tolong!!!", bermegap-megap teriakku

Semak-semak ini semakin menjadi-jadi

Bagaimana caranya untuk terus menghidupi diriku????


.....................................................
.....................................................
.....................................................

Tuesday, May 6, 2008

Antara Aku dan Kamu

Aku di sini menyanyi
Kamu di sana bersenandung
Aku di sini menari
Dan kamu di sana berlagu ikuti irama gerakan

Aku duduk merenung menunduk ke bumi
Kamu berdiri menengadah mengharap ke langit
Kubisikkan doa harapan di pagi hari
Dan kamu bawa mimpi-mimpi itu di tidur malam

Antara aku dan kamu..
Asa kita satu mimpi
Harap kita satu cita
Dan kalbu kita tuju satu arah

Antara aku dan kamu..
Ada selimut yang menutup mata hati
Ada tembok yang memisah kalbu
Kapankah ego dan harga diri berlebih ini pergi menghilang?

Antara aku dan kamu..
Kuberandai kita kan bijaksana dan cukup mengerti
Melihat dengan mata hati dan merasakan penuh kalbu
Nanti di masa mendatang mungkin..


Dan doaku..
Semoga penglihatan kita bukanlah penglihatan kasat mata semata

Semoga segala ego ini pergi menjauh
Dan semoga kita cukup pandai untuk tahu batas cukup adalah cukup




Monday, March 10, 2008

Kepada Bidadari Pelangi...

Wahai Bidadari Pelangi..
Lengkung indah busur kulihat sapamu tadi pagi,
kau beri senyum paling menawan penuh warna-warni.
Lalu intuisiku berkata ini tandanya mendung kan berganti,
janji sang matahari kan bersinar dan menerangi kembali.
Kubertanya bolehkah kau hantar rindu tuk senyum di ujung sana sekali lagi,
dan asaku ingin cita ini menjadi spektrum cahaya yang paling indah teurai.


Wuahhh....harapan itu tumbuh lagi.
Semoga tidak cepat terbunuhlah ia.
Untuk teman-temanku yang sedang bimbang, mari kita berharap bersama sekali lagi.
Dan semoga Tuhan melindungi aku dan kamu semua.

Wednesday, March 5, 2008

Dengan Puisi

Dengan puisi aku bernyanyi
sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
perkenankanlah kiranya

Dikutip dari Taufik Ismail


Jakarta, January 08

Ini adalah salah satu hadiah ulang tahun terindah
Disertai pesan-pesan yang ditemukan di balik bungkus permen Foxs:
"Kita takkan tahu jawaban dari sebuah masalah bila tidak melewatinya"
"Hari baik atau hari buruk, tergantung bagaimana kita menjalaninya"

Terima kasih Tika...:)
Setiap kali membaca ini, teringat kalian, wanita-wanita idealis.
Individu-individu yang berdiri di belakang prinsip masing-masing.
Walaupun kita jauh, tapi kalian selalu menumbuhkan inspirasi dan semangat.

Monday, January 28, 2008

Kisah Sang Putri dan Sang Nakhoda

Beribu-ribu malam Sang Putri duduk termenung
Senyum terlukis di wajahnya
Semua asa melayang ke Sang Nakhoda
Sambil bertanya dan menunggu kepulangannnya

Lalu terucaplah kepadaNya
O, Tuan, kapankah Sang Nakhoda akan berlabuh?
Dan ketika jawaban yang ditunggu tak kunjung terdengar
Direlakannya kepergian Sang Nakhoda dan kapalnya

Terpikirlah kapal itu tlah berlabuh di tempat tertuju
Dan dihantarkanlah kepada Tuannya
Sebuah rangkaian kata-kata penuh makna
Inilah doa tertulus untuk Sang Nakhoda


Menerima dan merelakan tak mudah.
Tetapi di dalam semua kesedihan dan harapan yang lalu,
ditemukannya sebuah anugerah dan bersyukurlah Ia.
Dan akhirnya Ia menerima dan merelakan.